Ilustrasi oleh Wulan Sari
Ilustrasi oleh Wulan Sari

Oleh: Robi Afrizan Saputra (Sastra Indonesia 2014)

Gara-gara uang 500 rupiah nenek bungkuk itu berjalan kira-kira sejauh 5 km. Tongkat kayu lapuknya hampir patah. Tangkainya digerogoti rayap-rayap setan. Belum lagi sejumlah ijuk di punggung yang membuatnya bertambah bungkuk. Tampaklah ia berjalan seperti siput yang mencoba berlari. Juga jelas badannya membentuk sudut 90 derajat.
Bayangkan saja!
Ini bermula dari seorang ibu muda yang tadi membeli sapu ijuknya di depan supermarket mewah daerah itu. Harga sapu ijuk yang dijual nenek bungkuk itu tak mahal. Ia patok Rp. 5.500,- saja. Lima ribu untuk dikembalikan kepada si pemilik modal. Lima ratus rupiah keuntungan yang didapatkannya. Kecil sekali, ya kecil sekali jika dibandingkan dengan perekonomian kapitalistis zaman ini. Mau tidak mau ya mesti begitu. Jika dipatok harga yang tinggi. Siapa yang akan membeli dagangan sederhana itu lagi? Kini pun banyak orang-orang membersihkan lantai rumah tak lagi dengan sapu, melainkan dengan mesin-mesin modern buatan Jepang.
Tampaknya semakin hari semakin dibenamkan dalam-dalam warga pribumi oleh teknologi.
Ibu muda memberikan dua lembar uang pada nenek bungkuk itu. Satu lembar uang lima ribu dan selembar lagi uang dua ribu. Harga sapu ijuknya Rp. 5.500,-. Berarti kembaliannya seribu lima ratus.
“Sebentar Nak,” suara tuanya terucap lirih dan ia mencoba mengaruk-ngaruk dompet tua yang resletingnya telah rusak. Yang ada hanya beberapa lembar uang seribuan.
Kembali ia berucap, “Ini kembaliannya seribu dulu Nak. Lima ratusnya sebentar ya,” ia berdiri dan bermaksud berjalan ke arah warung kecil menukarkan uang seribu dengan dua biji receh lima ratus.
“Ndak usaah Bu, ambil saja kembaliannya,” senyum ibu muda sembari memegang pundak sang nenek.
“Sebentar Nak. Ini ‘kan dagang. Kembalian mesti utuh, apalagi kurang itu tidak boleh,” nenek bungkuk melangkah ke warung kecil untuk menukarkan uang seribuannya.
Ibu muda menahannya, “Ndak usaah Bu. Tidak apa-apa. Saya tidak keberatan,” lagi ia tersenyum.
“Saya izin pamit duluan Bu. Makasih yo sapu ijuknya.”
Nenek bungkuk tetap melangkah ke warung. Setelah ditukarkannya uang seribu dengan dua receh lima ratus. Ia mencoba menyusul ibu muda yang punggungnya semakin jauh semakin tak terlihat. Ia terus berjalan pelan dengan tongkat kayu lapuk dan sapu ijuk yang mengikat kuat di punggung bungkuknya.
***
Lain lagi di sebuah daerah ramai yang di sana berdiri kokoh bangunan-bangunan tinggi. Orang-orangnya cerdas-cerdas, pintar-pintar, dan berpendidikan. Sebutlah golongan akademisi.
Namun kecerdasan yang dimilikinya tak sebanding dengan kelakukan yang diperbuatnya. Ia pintar dan berpendidikan namun tingkahnya kadang begitu mengecewakan.
Bagaimana tidak, tiba-tiba pada suatu hari daftar hadirnya tertandatangani atau entah sengaja ditandatangani. Padahal ia tak masuk kelas. Aneh bukan? Mungkin saja ada makhluk asing yang menandatanganinya. Atau jangan-jangan sengaja menyuruh makhluk itu membantu menandatangani agar ia tetap hadir padahal tidak hadir. Hal yang sebenarnya kecil namun nyatanya berakibatkan besar. Hanya demi sebuah kehadiran, ia rela bertarung dengan nurani suci yang menentang.
Kadang dusta lebih mulia daripada jiwa yang rindu akan cahaya.
Sang akademisi kalah telak dengan nenek tua bungkuk yang hanya penjual sapu ijuk. Walau hanya lima ratus perak ia rela bertaruh nyawa demi sebuah harga kejujuran. Sedangkan sang akademisi yang berpendidikan tinggi mudah saja menitipkan kehadiran pada orang lain agar ia tetap dianggap hadir padahal tidak hadir. Ia lupa padahal kamera Tuhan tak pernah rusak.
Sebenarnya jujur adalah kesederhanaan. Saat kebanyakan orang nyaman hidup dalam dusta, maka pilihlah jalan yang berbeda.
Krisis kejujuran di negeri ini jangan sampai ikut-ikutan menyeret kita.
***
Tubuhnya bercucuran keringat. Wajahnya pucat pasi. Tangannya bergetaran, “Ini kembaliannya lima ratus rupiah lagi, Nak.”

Jatinangor 2015