Obor Pengadian oleh Taman Ilmu Unpad

Menari bersama Taman Ilmu Unpad (Foto oleh : Lavienia Rieska)
Menari bersama Taman Ilmu Unpad (Foto oleh : Lavienia Rieska)

Masih dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional, Taman Ilmu Unpad mengadakan acara bertajuk Obor Pengabdian yang dilaksanakan pada 2 Mei 2015 di aula PSBJ dari pukul 08.00-17.00 WIB. Obor Pengabdian merupakan acara yang terdiri dari diskusi akbar mahasiswa mengajar se-Jawa Barat  dengan judul “Putus Sekolah dalam Dunia Pendidikan”. Diawali dengan kata sambutan dari berbagai tokoh,lalu dilanjutkan sesi pertama membahas mengenai pendidikan dan pengabdian. Mulai dari cerita pengabdian sang istri pendiri Taman Ilmu  dan juga pendiri PAUD Bunda Hajar –Ibu Ani- yang berbicara mengenai peran anggota masyarakat dalam menekan angka anak putus sekolah ,hingga awal mula terbentuknya Rumah Pelangi yang didirikan oleh Kang Asep Suhendar S. Bapak Agus Wellyanto Santoso, SH (ketua komisi V DPRD Jawa Barat) juga ikut memberikan materi seputar pendidikan di Jawa Barat.

Rumah Pelangi yang terletak di daerah Bale Endah, terinspirasi dari Rumah Mentari yang sering ditandangi Kang Asep untuk mengabdi dan mengajar anak-anak disana. Kemudian muncullah ide untuk mendirikan Rumah belajar serupa di daerah tempat tinggalnya. Deengan jumlah lima buku cerita dan 10 anak didik, Kang Asep menjadikan kamarnya sebagai tempat anak-anak membaca. Saat ini, Rumah Pelangi memiliki beragam kegiatan selain belajar outdoor, yaitu permainan tradisional, kegiatan memungut sampah dan menjadikannya barang daur ulang, jelajah desa, serta kegiatan pemuda sekitar.

“Nilai diri kita tidak diukur dari sebanyak apa yang kita miliki, tapi diukur dar sebanyak apa yang kita bagi.” Ujar Asep Suhendar S.

Sesi kedua acara ini, Join Statement Forum yaitu pertemuan gerakan pengabdian di bidang pendidikan tingkat universitas se-Jawa Barat, dimoderatori oleh Siti Aliyuna Prastiti, S.IP dengan judul “Putus Sekolah dalam Dunia Pendidikan di Jawa Barat.” Forum ini bertujuan untuk membuat sebuah komunikasi mengenai solusi atas tingginya tingkat putus sekolah meskipun sistem pendidikan telah diperbaharui.

Berdasarkan 18 kabupaten dan 9 kota yang ada di Jawa Barat ditemukan sebanyak 19.310 siswa SD, 2.721 siswa MI, 12.000 siswa SMA, 5.225 siswa SMK dan 2.817 siswa MA yang putus sekolah. Angka yang cukup fantastis mengingat kebijakan wajib belajar yang telah dicanangkan Indonesia sejak lama ternyata belum begitu membuahkan hasil yang maksimal.

Adapun poin-poin yang dibahas yaitu peran pemerintah dalam upaya mengurangi jumlah siswa putus sekolah, efektivitas program pendidikan, kualitas guru dan tenaga pengajar, serta peran lembaga non formal dalam masyarakat untuk meminimalisir tingkat putus sekolah. Delegasi dari tiap-tiap universitas seperti Universitas Indonesia, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Jenderal Ahmad Yani, dan delegasi dari Universitas tuan rumah sendiri, Padjadjaran, dibagi menjadi 4 kelompok diskusi kecil untuk merumuskan dan membahas solusi-solusi terbaik mengenai poin-poin yang disebutkan. Setelah 30 menit, masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. Dan dimulailah penyusunan komunikasi yang difasilitasi oleh moderator. Diskusi berlangsung begitu seru dengan solusi dan ide dari masing-masing delegasi diwarnai dengan sanggahan dan pendapat. Pembahasan poin keempat mengenai peran lembaga non formal dalam masyarakat telebih dahulu diselingi oleh pementasan siswa Taman Ilmu mulai dari usia 6-12 tahun dengan mempersembahkan serangkaian penampilan seperti tari, pembacaan puisi, dan tarik suara yang diiringi gitar dan biola mahasiswa pengajar Taman Ilmu. Para delegasi pun ikut menari dan menyanyi bersama anak-anak dan pengajar Taman Ilmu di dalam ruang aula PSBJ.

Setelah penampilan usai, forum dilanjutkan mengenai poin terakhir dan akhirnya tersusunlah sebuah komunike yang isinya antara lan; meningkatkan pengawasan pemerintah sebagai tindak lanjut atas program pendidikan yang telah terbentuk, mengubah paradigma masyarakat mengenai pendidikan formal, pembentukan program kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masih dala jangka waktu tertentu, dan sebuah revolusi pendidikan sebagai titik loncat untuk mencapai kualitas pendidikan yang maksimal.

Faktor utama putus sekolah adalah ketiadaan biaya dan mentalitas masyarakat sendiri. Pola pikir masyarakat yang masih awam dengan pendidikan akan lebih berorientasi pada keuangan keluarga dengan asumsi bahwa pendidikan hanya meghabiskan uang dan lebih memilh menyuruh si anak bekerja membantu orang tuanya. Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil juga tentunya merasa sulit untuk mengenyam pendidikan. Untuk itu, dibutuhkan perhatian akses melalui sarana dan prasarana di daerah tersebut untuk memudahkan jalannya kegiatan pendidikan.

“Saya ingin pendidikan berjalan semestinya, bukan cuma pendidikan akademik tetapi juga pendidikan moral, pendidikan dari segi IQ, EQ, dan ESQ, jadi pendidikan itu bukan hanya soal keptaran, namun juga berakhlak baik dan beramal shaleh.” tutur Fallen, ketua panitia Obor Pengabdian

Fallen juga berharap acara ini dapat menjadi pemercik atau inspirasi bagi pengabdian lain didaerah masing-masing di ruang lingkup Jawa Barat. (IS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *