Menyelamatkan Bumi dengan Kreativitas

Para mahasiswa menyalakan lampion di tengah gelapnya malam Earth Hour
Para mahasiswa menyalakan lampion di tengah gelapnya malam Earth Hour. (Foto : Putri Syifa N)

Jumat, 27 Maret 2015 –  Kementerian lingkungan BEM UNPAD mengadakan gerakan Earth Hour Jatinangor dalam rangka gerakan mencintai bumi. Gerakan ini dilatarbelakangi oleh rasa malu dan kesadaran mahasiswa tentang minimnya gerakan peduli bumi di kota Sumedang. Terutama di kawasan Jatinangor, yang merupakan kawasan pendidikan tapi belum pernah ada gerakan global. Dari latar belakang itulah, mereka bermaksud memfasilitasi mahasiswa dan masyarakat sekitar Jatinangor, serta menjadi fasilitator untuk masyarakat yang berada di wilayah Bandung Timur untuk mengadakan gerakan global peduli bumi.

Rangkaian acara dimulai dari pukul 16.00 WIB, dengan dibukanya  stand  photo booth  contest  menggunakan  atribut save earth,  yang bertujuan untuk menyentuh dan mengajak orang-orang untuk menyelamatkan bumi. Atribut yang digunakan untuk kampanye menggunakan kertas flayer bekas yang ada di sekre BEM, sebagai pembuktian langkah awal menyelamatkan bumi.

Acara akan dilanjut dengan pawai sekaligus kampanye tentang earth hour, disambung dengan flashmob yang menjadi simbol ajakan untuk bergerak, yaitu bergerak melindungi bumi.  Namun, aksi pawai tersebut harus ditunda karena hujan.  Pukul 20.00 WIB, hujan belum juga reda, maka aksi pawai dan flashmob  dibatalkan  dan diganti dengan kampanye ke kafe-kafe  sekitar Jatinangor yang sudah bekerja sama dengan panitia untuk mematikan lampu selama satu jam dalam gerakan peduli bumi. Telah dibagi tiga distrik wilayah yang akan dikunjungi. Distrik satu mulai dari daerah Sukawening sampai toko Favorit. Distrik dua dari toko Favorit ke daerah Jatos, dan distrik tiga dari Jatos dan sekitarnya.

Acara ini juga menggunakan beberapa penanda sebagai simbol, seperti glowstick dan  topeng panda. Glowstick digunakan sebagai salah satu penarik massa, dan disimbolkan sebagai alternatif penerangan, bahwa untuk penerangan tidak melulu menggunakan lampu atau alat yang memerlukan bahan bakar. Sedangkan topeng panda digunakan untuk mengajak masyarakat.

“Saya pribadi sih, berharapnya mahasiswa Unpad lebih meningkatkan lagi rasa sensitifitas terhadap lingkungan atau isu mengenai lingkungan. Mudah-mudahan dengan adanya acara ini, semoga lebih banyak lagi orang yang peduli terhadap lingkungan,” ucap Safitri, ketua pelaksana  Earth Hour Jatinangor, saat ditanya mengenai harapan kedepannya.

“Kalau merujuk ke fungsi mahasiswanya itu sendiri kan sebagai agent of change dan kita juga sering dituntut untuk turun ke jalan, tapi itu ‘kan ga harus tentang politik. Ini juga salah satu bentuk dari peran dan fungsi mahasiswa. Kemarin saja kita kampanye di Paun (Pasar Unpad), warga lokalnya belum pada tahu, mahasiswanya juga banyak yang belum tahu, berarti pengabdian kita itu kurang. Maka saya sendiri punya misi untuk ngerubah wajah Unpad bukan sebagai wajah event lagi, tapi jadi wajah pengabdian. Mahasiswa kan punya kelebihan dan pengetahuan juga untuk ditularkan ke yang lain. Toh, kalo diajak turun untuk aksi ke jalan kan agak susah, tapi kalo diajak aksi kreatif kaya gini, ternyata antusias, animonya besar. Berarti anak Unpad itu kreatif, jadi Insyaallah kedepannya harus ada gerakan-gerakan yang kaya gini, entah itu lingkungan, masyarakat, atau politik sekalipun,” tambah Edu, Menteri Lingkungan BEM Unpad.

Rencananya, Kementrian Lingkungan BEM Unpad juga akan mengadakan acara serupa pada tanggal 22 April dan 5 Juni sebagai peringatan Hari Bumi.  (SPC/NA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *