Sebuah tempat yang selalu ramai dengan orang-orang yang menunggu keberangkatan mereka. Terik matahari dan keramaian orang banyak semakin membuat banyak kegelisahan di wajah semua orang yang sedang menunggu. Suara kendaraan dan suara orang yang berbicara atau berteriak membuatku semakin gelisah. Sesekali kutengok ke kanan dan ke kiri, aku sangat gelisah karena bus yang akan kutumpangi tak kunjung datang. Waktu kini sudah menunjukkan pukul 12.40, sementara hari ini aku harus ke kempus pukul 13.00, karena kelasku akan segera dimulai dua puluh menit setelah itu dan ada beberapa hal yang harus kukerjakan terlebih dahulu.

Kulihat orang-orang yang duduk di sebelahku, mereka juga sudah tampak gelisah menunggu bus kami yang tak kunjung datang. Ada seorang ibu dengan banyak barang bawaannya terlihat sudah tidak sabar lagi, ia mengipasi dirinya dengan kerudungnya, wajahnya sudah berubah dari saat aku datang tadi. Seorang remaja laki-laki di sebelahku juga sudah nampak cemas, ia terus melihat jam tangannya. Kulihat juga orang-orang disekelilingku dan wajah-wajah mereka pun juga menampakkan kegelisahan yang sama.

Seharusnya bus paling telat tiba di halte pukul 12.30, namun kini sudah lebih dari sepuluh menit dari waktu yang seharusnya, dan sekarang bus itu masih belum tiba. Tanpa disengaja mataku tertuju pada bangku di sebelah kanan tempat dudukku, berbeda dengan semua orang yang tampak gelisah, gadis yang di duduk di bangku itu tampak tenang dengan buku yang dibacanya. Wajahnya yang tertunduk ke bawah, membuatku tak sepenuhnya melihat wajahnya. Entah mengapa kemudian kegelisahanku semakin berkurang, aku sesekali menatap dan memerhatikannya. Dua puluh menit sudah berlalu, bus itu masih tak kunjung datang dari waktu yang seharusnya.  Namun kini, aku sudah tidak lagi gelisah, mataku terus saja menatap gadis yang duduk dengan tentang membaca bukunya itu. Semua orang disekitarku sudah banyak yang pergi untuk mencari kendaraan lain, tapi aku tak bisa beranjak dari halte sekarang, mataku masih tenang menatap gadis dengan bukunya itu.

Gadis itu kemudian menutup bukunya dan menyimpannya di sebelah tempat duduknya. Sekarang aku sudah dapat melihat wajahnya sepenuhnya, ia memiliki wajah yang tenang dan mata yang indah, tak sengaja aku melihat senyum manisnya ketika temannya datang menyapanya. Rupanya sedari tadi, ia sedang menunggu temannya. Dua gadis itu akhirnya bercakap-cakap berdua, terlihat keceriaan di wajah mereka dan mataku masih tertuju pada gadis yang membaca buku tadi. Bus kami pun tiba pada pukul 12.55, setidaknya aku masih bisa ke kampus dan mengikuti kelas. Dua gadis itu pun masuk ke dalam bus, dan aku juga menyusul mereka dari belakang, tak sengaja aku melihat buku yang di baca gadis tadi tertinggal, aku segera membawanya dan berniat untuk memberikannya pada gadis itu. Kusimpan buku gadis itu di tasku, setelah berada di dalam bus, aku mencari gadis yang duduk di halte tadi, setelah lama kucari akhirnya aku menemukannya. Tapi setelah itu, aku tak punya keberanian untuk berbicara pada gadis itu dan mengembalikan bukunya. Sampai pada saat gadis itu turun dari bus, aku masih tak berani menghampirinya. Buku yang dibacanya tadi kini berada di tanganku.

Buku yang dibaca seorang gadis di halte kemarin, semalam berada di kamarku. Melihat buku itu semalaman membuatku tak bisa melupakan ketenangan si gadis saat membaca buku di halte kemarin. Kuberanikan diri membuka buku milik gadis itu, buku itu berjudul Gadis Pantai karangan Pramoedya Ananta Toer, sepertinya itu sebuah novel. Aku membaca buku itu dan isinya tak dapat dengan mudah kupahami. Setelah membacanya dengan berulang-ulang, aku baru dapat memahami bahwa buku itu bercerita mengenai seorang gadis pantai yang harus menikah ketika usianya masih sangat muda. Ceritanya sangat menarik dan mencerminkan kehidupan orang-orang di pesisir pantai juga mengenai adat jawa yang saat itu masih menganut strata sosial. Di sana diceritakan bahwa gadis pantai yang saat itu masih muda belia harus menikah dengan seorang Bendoro. Gadis pantai dijadikan istri sementara, sebelum Bendoro itu menikah dengan gadis yang sederajat dengannya. Aku memang bukan mahasiswa yang mudah memahami karya sastra seperti novel atau cerpen, karena aku lebih menyukai ilmu pasti seperti jurusan yang kuambil, Ilmu Matematika. Buku itu selesai kubaca dari malam sampai menjelang shubuh, entah karena aku menyukai ceritanya atau karena buku itu milik seorang gadis yang menarik perhatianku kemarin, namun yang pasti aku menyukai buku itu.

Saat ini aku berjalan menuju halte bus, entah mengapa hatiku merasa bahagia, mungkin karena aku berharap bertemu kembali dengan gadis di halte kemarin. Sesampainya di halte tak kulihat gadis kemarin itu. Sekarang pukul 09.00, dan aku duduk di halte bus, meskipun tak berniat untuk naik bus. Aku duduk dengan resah, sesekali aku menatap ke bawah, lalu menengok ke kanan-kiri dan sering kali aku menengok ke kejauhan sana, seperti sedang menunggu seseorang datang. Waktu terus berlalu hingga menunjukkan pukul 11.30, namun aku masih menunggunya, walaupun aku tahu bahwa belum tentu gadis itu akan datang. Tiba-tiba di sebelahku duduk seorang Ibu dengan tiga anaknya. Ibu itu mungkin usianya sekitar empat puluh tahun, ia menggendong seorang anak yang masih bayi, lalu di depannya dua anaknya yang lain sedang sibuk memakan makanan mereka, yang laki-laki berusia sekitar tujuh tahun, dan yang perempuan berkisar empat atau lima tahun menurutku. Sesekali ibu itu mengipasi dirinya dan mengelap keringat dengan kerudungnya, ia juga harus menenangkan kedua anaknya yang sudah besar agar tidak terus berisik dan bertengkar, sementara bayi yang digendongnya harus ditenangkannya agar tidak menangis. Pengorbanan dan perjuangan seorang ibu sangat kurasakan saat itu, bagaimana kewajiban seorang perempuan untuk menjadi ibu dengan merawat dan menjaga anak-anaknya sepenuh hati. Aku jadi kembali teringat buku yang kubaca kemarin malam, bagaimana kedudukan seorang perempuan dalam cerita tersebut. Sebelum adzan dzuhur aku pun segera pergi meninggalkan halte untuk beristirahat dari penantian yang tak berarti ini.

Seminggu ini aku selalu datang ke halte bus lebih awal dari jadwal keberangkatan busku. Aku selalu berharap untuk dapat bertemu kembali dengan gadis itu dan dapat mengembalikkan bukunya. Kemarin malam kubuka buku itu kembali, sebuah novel dengan judul Gadis Pantai, kulihat halaman-halamannya dan kubaca-baca lagi sekilas, tak kusangka di halaman-halaman terakhir kulihat ada tinta biru yang menuliskan sebuah nama yang membuatku sangat terkejut tentunya. Nama siapakah yang ada pada halaman-halaman terakhir di buku itu, apakah itu nama gadis di halte seminggu yang lalu, aku pun tak tahu pasti, tapi yang pasti di sana tertulis Zahra Annisa, sebuah nama yang indah.

Waktu telah banyak berlalu, kini sudah hampir sebulan setelah kejadian dengan gadis buku di halte dulu. Waktu juga telah banyak merubahku, kini aku mendapat pengetahuan dan pengalaman-pengalaman baru. Setelah beberapa minggu kemarin aku selalu duduk menunggu seseorang di halte bus, aku menemukan berbagai peristiwa yang menarik perhatianku. Di halte bus ini banyak kutemui orang-orang dengan kesibukan dan permasalah mereka sendiri. Terkadang aku melihat ibu-ibu yang kerepotan dengan anak-anak mereka atau dengan barang bawaan mereka, ada juga remaja atau pelajar yang acuh dengan lingkungan sekitarnya dan terlalu asyik dengan gadget mereka, atau bapak-bapak yang merokok tanpa melihat sekelilingnya dan perempuan-perempuan yang harus menjaga diri mereka dari kejahatan di keramaian. Belum lagi, jika terjadi tindakan-tindakan kriminal, seperti kecopetan atau pelecehan terhadap perempuan. Memang umumnya perempuanlah yang mengalami peristiwa yang tak menyenangkan itu. Ibu-ibu dan perempuan-perempuan muda sering menjadi target pencopet dan perlakuan tak menyenangkan di halte bus. Setelah kejadian dengan gadis buku sebulan yang lalu dan membaca sebuah novel milik gadis itu serta mengalami banyak kejadian selama sebulan kemarin membuatku merasakan sesuatu yang baru. Sebagai seorang laki-laki yang menyukai ilmu pasti, aku kurang memerhatikan ilmu-ilmu sosial. Namun selama sebulan ini, aku mulai belajar mengenai kehidupan sosial, terutama tentang perempuan dan kesulitan-kesulitannya dalam menjalani kewajiban dalam hidupnya.

Tiba kembali aku di halte ini, halte yang telah memberikanku banyak pengalaman dan pengetahuan baru tentang hidup. Bahwa kehidupan ini adalah sebuah proses bagi seorang manusia untuk menuju kedewasaannya. Kehidupan yang selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya, kehidupan yang harus menghargai dan menghormati sesama manusia, kehidupan yang akan terus berlanjut untuk mencari kehidupan yang lain. Setelah beberapa lama, tak kusangka busku masih tak kunjung datang, sudah lewat lima belas menit dari waktu seharusnya. Sebulan yang lalu busku juga telat datang ketika pertemuan pertama dengan gadis buku itu. Setelah kejadian itu, aku mendengar percakapan beberapa orang yang membicarakan bus yang telat datang waktu itu, ternyata bus itu telat datang karena terhambat oleh kecelakaan yang membuat jalanan macet. Apakah terjadi hal serupa pula hari ini, aku tak tahu. Namun yang kutahu hal serupa itu terjadi, hari ini aku melihat gadis itu kembali. Entah apa yang merasuki pikiranku, tiba-tiba aku mengeluarkan buku milik si gadis yang memang selalu kubawa-bawa setiap hari. Aku kemudian menghampirinya dan mengembalikan bukunya, walaupun dengan gugup aku mampu mengatakan bahwa buku itu milik si gadis dan mengembalikannya. Ia pun melihat bukunya dan tersenyum kepadaku. Ia kemudian mengucapkan terima kasih dengan senyum manisnya lalu mengulurkan tangannya padaku dan berkata, “Zahra”. Aku pun tersenyum padanya dan dengan terbata-bata kukatakan “Dimas”, tubuhku masih tak bisa bergerak dan mematung saat itu, aku gugup sekali.