Menilik Kesunyataan Lewat Peluncuran Buku Reriak Jiwa Hanya 42 sajak Sederhana Karya M. Irfan Hidayatullah

M. Irfan Hidayatullah menyampaikan gagasannya mengenai isi buku  Reriak Jiwa Hanya 42 Sajak Sederhana. (Foto Putri Syifa Nurfadilah)
M. Irfan Hidayatullah menyampaikan gagasannya mengenai isi buku Reriak Jiwa Hanya 42 Sajak Sederhana. (Foto Putri Syifa Nurfadilah)

Selasa, 10 Maret 2015– Gelanggang Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UNPAD, mengadakan acara peluncuran sekaligus bedah buku yang merupakan kumpulan sajak berjudul Reriak Jiwa Hanya 42 Sajak Sederhana karya M. Irfan Hidayatullah, dosen Program Studi Sastra Indonesia, dengan slogan “Yang merdeka adalah yang tak takut pada kata”. Acara ini dimulai pada pukul 13.00 WIB bertempat di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya UNPAD.

Sebagai pembuka acara, ketua Gelanggang Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia, Al-Mukhsidin memberikan sambutannya selaku ketua pelaksana. Ia berharap semoga acara ini menjadi pengisi waktu luang yang menyenangkan dan semuanya mendapat faedah dari acara tersebut.

Setelah  beberapa sambutan yang disampaikan, dalam acara ini disuguhkan sebuah pementasan dari Teater Djati dengan judul “Detak-Detik” adaptasi dari dua sajak yang terdapat dalam antologi sajak Reriak Jiwa yang berjudul “Riak Jiwa 1” dan “Riak Jiwa 2”.

Acara inti bedah buku selanjutnya dipandu oleh moderator, M. Syahrial, mahasiswa Sastra Indonesia. Terdapat tiga pembicara dalam diskusi tersebut, yaitu Baban Banita selaku penulis pengantar untuk antologi tersebut, Muhammad Dikdik R. Aripianto, dan M. Irfan Hidayatullah selaku penulis antologi tersebut.

Diskusi dimulai dari M. Dikdik R. Aripianto yang mengemukakan pandangannya mengenai kumpulan sajak Reriak Jiwa bahwa sajak-sajak ini adalah wacana yang religius, tentang kesunyataan dan kefanaan manusia dihadapan Tuhannya. Ia juga berkata bahwa sajak ini juga menyinggung tentang masa lalu. Bicara tentang sejarah dan masa lalu, maka akan teringat kenangan yang lalu yang menjadikannya hal penting untuk dikaji ulang. Sedangkan Baban Banita berpendapat bahwa sajak-sajak ini menekankan bahwa yang fana adalah kita, waktu abadi. Menurutnya, waktu adalah segala batas rencana untuk manusia. Ia juga mengatakan bahwa surat Al- Asr adalah jantung dari antologi tersebut. Sajak-sajak ini mengandung metafor yang menjadikannya indah untuk dibaca.

Penulis antologi sajak ini, M. Irfan Hidayatullah berkata bahwa melahirkan itu menyakitkan. Melahirkan karya bukan sesuatu yang mengenakkan, menulis adalah hasil mengalami hidup, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Kegelisahan spiritual yang ia alami telah membuatnya menulis antologi ini. Kesakitan dan kegundahan ia jadikan sebagai tonggak untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Ia mengubah kegelisahan menjadi sesuatu yang optimis karena dari kegelisahan, seseorang akan merenung dan suatu saat kecemberutan itu akan menjadi sebuah senyum atas keberhasilan. Atas kesadaran umurnya yang sudah 42 tahun itulah ia ingin kembali menghasilkan sesuatu. Buku kumpulan sajak ini merupakan hadiah untuk Maman Mahayana dan Taufiq Ismail, yang sebelumnya kumpulan puisi ini hanya dipublikasikan di jejaring sosial.

“Empat puluh dua sajak yang terdapat dalam kumpulan sajak ini tidak ada hubungannya dengan umur atau kehidupan pribadi. Saya pilih 42 karena 42 bukan jumlah yang terlalu banyak dan biar tidak lebih dari 5o halaman juga. Ini hanya kebetulan. Saya memilih 42 sajak ini karena ada hubungan dengan kegelisahan, waktu dan kefanaan, maka saya beri judul Reriak Jiwa,” ujarnya ketika ditanya kaitan judul dan jumlah sajak dengan umurnya.

Tidak hanya antologi sajak ini yang pernah beliau tulis, beliau juga sudah melahirkan beberapa novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan sajak. Salah satu kumpulan cerpen yang ia tulis dan baru-baru ini diterbitkan berjudul ‘Jangan-Jangan Kau Bukan Manusia’. Selain menulis novel, cerpen, dan puisi, ia juga menulis lagu yang akan segera dirilis. Beliau berharap agar karya-karya yang ia lahirkan segera memiliki “adik” dan mempunyai “teman”. “Mudah-mudahan juga tetap ada maknanya untuk diri sendiri,” ujarnya menutup penjelasan.

Sesi diskusi  ditutup dengan aksi M. Irfan Hidayatullah yang menyanyikan lagu ciptaannya yang berjudul ‘Riak Jiwa’ yang isi lagunya tidak berkaitan dengan sajak Riak Jiwa.  (PSN)

penabudaya

Related Posts

Porseni 2020: Kukuh Berkreasi walau Pandemi

Porseni 2020: Kukuh Berkreasi walau Pandemi

Tangkis Asumsi Negatif “Kuliah Sastra Lulus Jadi Apa?”

Tangkis Asumsi Negatif “Kuliah Sastra Lulus Jadi Apa?”

Puncak H2S: Salam Banyak Sastra!

Puncak H2S: Salam Banyak Sastra!

Ketika Budaya Sunda Bersemi dengan Monolog

Ketika Budaya Sunda Bersemi dengan Monolog

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *