Membangkitkan Jiwa Kedaerahan pada Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Pertama-3Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interaksi dengan manusia lainnya dalam menjalani kehidupannya. Selain terjadinya kontak sosial, syarat lain interaksi antarmanusia adalah komunikasi yang tentunya melibatkan bahasa sebagai alatnya. Ada ribuan bahkan mungkin ratusan ribu bahasa yang ada di dunia. Tidak hanya bahasa nasional sebagai bahasa pemersatu di setiap negara, tapi juga di dalamnya terdapat bahasa tradisional atau bahasa ibu. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki bahasa ibu yang sangat banyak. Untuk melestarikan bahasa-bahasa ibu yang ada di dunia, UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional ini. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran memperingatinya dengan menggelar sebuah acara yang diisi dengan lomba mendongeng (dengan bahasa ibu), seminar bahasa daerah, dan parade musik (folksong).

Acara digelar dua hari, yaitu pada hari Selasa dan Rabu, 3-4 Maret 2015 bertempat di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Kampus Jatinangor. Pada hari pertama, agendanya adalah lomba mendongeng dalam bahasa ibu. Sekitar pukul 09.00 pintu masuk aula dibuka. Diawali sambutan Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Yuyu Yohana Risagarniwa, M.Ed., Ph.D. dan sedikit penjelasan teknis acara oleh Baban Banita, M. Hum selaku koordinator lomba mendongeng, acara pun dimulai. Lomba dibuka oleh Bambang Santosa sebagai peserta nomor urut pertama yang membawakan dongeng dengan bahasa Jawa-Banyumas, lomba berlanjut dengan menampilkan para peserta lomba yang menggunakan berbagai macam bahasa daerah. Kebanyakan peserta menggunakan bahasa Sunda dan Jawa. Di antaranya Sri Wahyuni, peserta nomor urut 2 dari Sastra Sunda ini membawakan dongeng berbahasa Sunda yang berjudul “Sasakala Kutapinggang” yang mendapat gelak tawa penonton karena pembawaannya yang lucu dan logat Sunda yang kental. Selain itu, dengan judul “Kabayan Ngala Nangka”, Sinta Aulia yang merupakan perwakilan dari panti asuhan Al-Kautsar, Lembang, juga tak kalah lucu.Dengan memakai kopiah dan sarung yang diselendangkan, ia mendongeng dengan penuh semangat serta gerak tubuh yang menarik yang membuat penonton tidak bosan. Dalam bahasa Jawa, ada Fika Andari perwakilan Sastra Jerman, membawakan dongeng berjudul “Suroboyo” yang menceritakan asal muasal nama kota Surabaya.Ia mendapat sambutan meriah karena penampilannya yang enerjik. Kemudian adaSugeng Riyanto yang juga dosen Prodi Sastra Indonesia membawakan dongeng berjudul “Ande-Ande Lumut” yang ditampilkan dengan begitu ekspresif sehingga mendapat sorak sorai dari penonton meskipun tidak semua mengerti bahasa Jawa. Selain dua bahasa yang mendominasi itu (Sunda dan Jawa), bahasa lain pun, seperti Aceh, Betawi, bahkan bahasa Rusia—yang dibawakan seorang bule bernama Lana dari Prodi Sastra Rusia—tak kalah mendapat perhatian. Yang cukup menyita perhatian penonton adalah ketika seorang peserta nomor urut 12 yang bernama Sufian S.M. membawakan dongeng dengan bahasa Dayak. Walaupun tidak mengerti bahasanya, penonton sesekali dibuat tertawa terbahak-bahak karena pembawaannya yang unik. Lucunya, ketika ditanya oleh pembawa acara mengenai makna dongeng tersebut, ia sendiri tidak mengerti karena Sufian ini ternyata orang Ciwidey, tetapi tahu dongeng tersebut dari temannya yang orang Dayak.

Ditemui secara terpisah, koordinator lomba mendongeng Baban Banita, M. Hum menceritakan bahwa lomba mendongeng baru diadakan tahun ini pada perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional. “Ini dijadikan momen aja, kedepannya kita akan membuat ini lebih baik lagi dan lebih luas jangkauannya”, pungkas dosen Prodi Sastra Indonesia ini.

Pada hari kedua, acara diawali dengan seminar bahasa daerah. Sekitar pukul 09.30 diskusi dimulai. Diskusi ini membahas Bahasa dan Aksara Sunda dan Basemah. Dipandu oleh moderator Bapak Gugun, pembicara pertama adalah Dr. Setiono Mahdi yang membahas bahasa dan aksara Basemah yang merupakan bahasa dari Sumatera Selatan. Dengan menampilkan aksara Basemah itu di layar, ia menjelaskan mengenai aksara tersebut, termasuk perubahan bunyi huruf ketika tandanya berubah. Pembicara kedua adalah Dr. Undang Ahmad. Beliau menyampaikan materinya tentang bahasa dan aksara Sunda. Ditampilkannya pula aksara Sunda dan prasasti-prasasti yang memuat aksara Sunda di layar, kemudian secara singkat menerjemahkan makna-makna dari aksara tersebut. Selain itu, Dr. Undang Ahmad menjelaskan proses perkembangan aksara Sunda sampai bentuk yang kita kenal hari ini. Kemudian diskusi ditutup dengan sesi tanya jawab yang dibatasi tiga penanya saja karena waktu yang terbatas. Berlanjut dengan parade musik (folksong) dengan penampilan grup musik dari jurusan-jurusan yang ada di Fakultas Ilmu Budaya Unpad, acara perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional ini ditutup dengan pengumuman para pemenang lomba mendongeng yang diadakan sehari sebelumnya. Juara pertama berhasil diraih oleh Bapak Sugeng Riyanto dari Sastra Indonesia, juara kedua Fika Andari dari Sastra Jerman, dan juara ketiga diraih Sinta Aulia dari Panti Asuhan Al-Kautsar, Lembang. Hadiah langsung diserahkan oleh Ketua Pelaksana Abdul Hamid, M. Hum. Dimintai tanggapannya mengenai juara pertama yang ia raih, Pak Sugeng bercerita bahwa awalnya ia mengira ini bukan sebuah lomba. “Saya kira hanya perwakilan tiap jurusan, tidak tahunya lomba, dikasih nomor.”

Menurut Ketua Pelaksana Abdul Hamid, M. Hum, acara ini dilatarbelakangi oleh ancaman kepunahan bahasa-bahasa ibu di dunia. Dengan diadakannya acara seperti ini, diharapkan kita bisa lebih menghargai bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Ia berharap kedepannya acara peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional ini bisa lebih terstruktur dan terorganisir. (IF/NA)

Hari Kedua-1(1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *