Pementasan RT 0 RW 0 oleh Teater Djati

Warga RT 0 RW 0 sedang melepas warga lainyang ingin pergi, Ina dan Abangnya. (Foto : Putri Syifa Nurfadilah)
Warga RT 0 RW 0 sedang melepas warga lainyang ingin pergi, Ina dan Abangnya. (Foto : Putri Syifa Nurfadilah)

JATINANGOR—sejumlah mahasiswa mengantri di pelataran aula Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran yang bertempat di Jalan Raya Bandung – Sumedang Km. 21 Jatinangor pada Rabu (25/02) kemarin. Hari itu akan digelar pementasan teater tunggal dari Komunitas Teater Djati yang dinaungi oleh Gelanggang, Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia. Pementasan yang akan ditampilkan yaitu “RT 0 RW 0” karya Iwan Simatupang disutradari oleh  M. Hakim Dutama Pementasan ini merupakan pementasan perdana dari anggota baru teater Djati. 

 

Terdiri dari dua sesi pertunjukan, yaitu pukul 11.00 (sesi 1) dan 16.00 (sesi 2). Walaupun sedikit ngaret, pementasan sesi 2 yang akhirnya dimulai dari pukul 16.25 WIB itu tidak mengecewakan penonton. Karena, baik penonton dari kalangan dosen maupun mahasiswa, semuanya menyatakan kekaguman dan mengapresiasi proses dari Teater Djati.

Kisah yang disajikan ialah tentang status orang-orang yang tinggal di bawah kolong jembatan. Betapa mereka menginginkan sebuah kartu penduduk agar bisa dianggap sebagai manusia normal. “Secara keseluruhan bagus!” begitu kesan Abdul Hamid, salah satu dosen Sastra Indonesia.“Walaupun ada adegan-adegan tertentu yang masih kurang,” lanjutnya. “Misal, adanya adegan pelukan yang terkesan terlalu lama. Seperti sinetron! Ngepop sekali. Padahal seharusnya tidak berlebihan seperti itu,” komentarnya dengan diiringi tawa. Senada dengan Abdul, Almi dan Nura, dua mahasiswi Sastra Jepang yang juga menonton teater itu mengatakan bahwa untuk penampilan perdana mereka (Teater Djati tahun 2014) begitu hebat walau tetap saja masih harus ditingkatkan dalam hal mengolah suara dan lebih mengefektifkan lagi dalam mengolah waktu.

Menurut Tama, sutradara RT 0 RW 0 harga tiket masuk pementasan ini merupakan harga tiket yang termahal selama sejarah pementasan teater Djati. “Karena kita tahu, bukan hanya anak kedokteran yang kaya hingga bisa membeli mayat gelandangan yang tak berdosa. Tapi anak Sastra juga mampu membeli tiket seharga 15.000 rupiah untuk memahami sebuah hati dan perasaan sang penderita kemiskinan,” tuturnya. Dengan secarik tiket tersebut, penonton dapat melihat bagaimana kisah gelandangan yang tinggal di bawah kolong jembatan. Mengetahui apa yang mereka rasakan, betapa susahnya menjadi “ada” di antara orang yang memang “ada”.

“Kita sering memandang bahwa orang yang hidup di kolong jembatan itu rendahan. Tetapi sebenarnya, mereka juga manusia seperti kita. Butuh pengakuan dan perlindungan dari pemerintah. Salah satunya dengan kartu tanda penduduk. Dari sinilah, penulis seolah ingin menyampaikan kritik sosialnya, bahwa ternyata seseorang yang kita anggap rendahan itu memiliki perasaan terpuruk. Dan mereka tidak menginginkan apa pun, kecuali hanya pengakuan.” Tutup Riri, ketua teater Djati. (KRA/RP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *