Orang-orang yang Terbuang Pasca 1965

Bedah Buku dan Diskusi Bersama Syarif Maulana dan Taufiq Hanafi (Foto : Clara Nurvian)
Bedah Buku dan Diskusi Bersama Syarif Maulana dan Taufiq Hanafi (Foto : Clara Nurvian)

“Dan janganlah sekali-sekali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu utnuk berlaku tidak adil.” 

Terpinggirkan adalah suatu pengalaman manusiawi yang bisa saja dialami oleh setiap orang tanpa tebang pilih. Selasa (24/2/2015) bertempat di aula Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, diadakan acara diskusi tentang Orang-orang yang Terbuang Pasca 1965 dan Bedah Buku Nasib Manusia karya Syarif Maulana. Pembicara dalam diskusi ini yakni Syarif Maulana, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Telkom sekaligus penulis buku Nasib Manusia: Kisah Orang yang Tak Bisa Pulang, dan pembicara kedua Taufiq Hanafi, dosen Sastra Inggris FIB Unpad yang juga seorang pengkaji sastra bandingan lulusan University of Oregon.

Diskusi diawali dengan pembahasan oleh Syarif Maulana tentang bukunya berjudul Nasib Manusia: Kisah Orang yang Tak Bisa Pulang. Buku ini berkisah tentang perjalanan hidup Awal Uzhara, seorang sutradara berkebangsaan Indonesia yang lama menetap di Rusia namun tidak bisa kembali ke tanah air sejak kisruh peristiwa G30S pada tahun 1965. Dalam kesempatan tersebut, Syarif Maulana menilik bagaimana kisah hidup seorang anak muda terpelajar tanah air yang tidak bisa pulang, hanya karena kegiatannya dalam menuntut ilmu di Rusia disalahpahami sebagai salah satu bentuk keterlibatan dalam hiruk pikuk kegiatan partai politik terlarang, mengingat saat itu Rusia dikenal berafiliasi sebagai negara komunis. Gejolak politik yang terjadi pada saat itu berimbas pada terpinggirkannya Awal Uzhara dari sejarah, kehadirannya seakan tidak diinginkan di negaranya sendiri. Meski demikian, kerinduan akan tanah air terus membuncah dalam batinnya. Ia melampiaskan rasa ingin mengabdi pada negeri ini dengan menjadi seorang pengajar bahasa dan sastra Indonesia untuk para mahasiswa Rusia di Universitas Negeri Moskow.

Selain kisah hidup Awal Uzhara yang diabadikan kedalam biografi oleh Syarif, Taufiq Hanafi, selaku pembicara kedua, juga memaparkan kisah pilu lainnya dari orang-orang yang turut terpinggirkan di kala itu. Berbeda dengan Awal, yang merupakan seorang terdidik namun terpinggirkan, tokoh yang dibahas oleh dosen Sastra Inggris FIB Unpad ini merupakan tokoh yang berasal dari kalangan bawah, dan dengan tingkat pendidikan rendah. Kisah yang dibawakan Taufiq berjudul “Tragedi Senen-Kemis: Terbuang di Kampung Halaman.”, juga menceritakan keadaan di tahun 1965 lewat sudut pandang orang terpinggirkan. Satu tokoh bernama Senen, yang mengalami diskriminasi karena tuduhan atas keterlibatannya dengan LEKRA, serta satu lagi bernama Kemis, yang juga terkena diskriminasi karena dianggap berafiliasi dengan SOBSI. Mereka berdua dipenjara karena tuduhan-tudahan tak berdasar yang sama sekali tidak mereka mengerti. Beberapa kisah penderitaan yang mereka alami dikemukakan dengan rinci, bagaimana susahnya mencari makanan saat itu, susahnya berkomunikasi dengan keluarganya, sampai dengan betapa mudahnya menjatuhkan seseorang kepenjara bahkan tanpa adanya bukti sekalipun.

Kisah-kisah yang tirainya dibuka ini seolah memberikan gambaran kecil bagaiamana dahsyatnya pengaruh politik pada masa itu. Ellynda, salah satu peserta diskusi, bahkan mendapat kesan yang kuat serta manfaat yang baik dari mengikuti acara diskusi bersama ini, “Ini acara yang bagus. Saya jadi banyak tahu sejarah melalui berbagai segi. Kisruh politik pada 1965 membuat saya mengerti bahwa ada banyak kisah di luar sana yang tidak kita—generasi muda—tahu akan perasaan dipinggirkan dan terpinggirkan pada waktu itu.”, jelasnya.

Diskusi ini berlangsung kurang lebih satu setengah jam, kemudian dilanjutkan dengan dua sesi tanya jawab, dan diakhiri dengan pembagian buku karya Syarif Maulana untuk tiga orang penanya. Syarif Maulana juga sempat menghibur audiens dengan pertunjukkan gitar klasik yang diadakan disela-sela jeda diskusi. Tentunya diharapakan diskusi ini bisa memberikan informasi yang cukup untuk menyadarkan orang-orang, bahwa selalu ada dua sisi dari sebuah cerita. Dengan mendengarkan keduanya sama rata, maka kita bisa menarik kesimpulan yang terbaik. (UK/CN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *