Ketika Warna Warni Seni Bersatu dalam Konvergensi Seni GSSTF

C360_2014-11-01-13-03-01-015

“Kau begitu lucu dan menggemaskan!”, ujar Joni, seorang pemuda penjual es krim yang terlalu terobsesi kepada seorang anak bernama Tuti sampai rela melukai gadis itu. Tokoh Joni diwujudkan di atas panggung aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya Unpad oleh Muh Rasyid Ridlo dalam monolog singkat berjudul ‘Joni’. Monolog tersebut tersaji pada acara Konvergensi Seni “Di Bawah Perbedaan Satukan Cita Hasilkan Karya” yang dipersembahkan oleh Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Universitas Padjadjaran yang dihelat pada Sabtu, 1 November 2014 lalu.

Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-30 yang jatuh pada 13 Oktober 2014, GSSTF memperingatinya dengan menyajikan berbagai penampilan apik dalam Konvergensi Seni. Acara ini tidak hanya menampilkan “Joni” saja, tetapi penampilan lainnya seperti pembacaan puisi dan cerpen, penampilan musik, serta penampilan puncak dari acara ini yaitu pementasan teater “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” yang diadaptasi dari cerpen Seno Gumira Ajidarma.

Beralih ke “Negeri, Haha, Hihi” karya KH. Mustofa Bisri, kita diajak menelaah sebuah kisah tentang suatu negeri yang di dalamnya terdapat banyak penyimpangan kebijakan dan kekuasaan. Sementara dalam “Mungkin Jika” karya Muhammad Alfan Baedlowi, dikisahkan tentang sebuah ungkapan hati yang sulit disampaikan dengan tutur kata. Sang hidangan utama berjudul “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” mengisahkan tentang terusiknya ketentraman para ibu di komplek perumahan Cita Rasa karena sebuah nyanyian di kamar mandi dari rumah Ibu Saleha yang membuat imajinasi suami mereka tidak terkontrol, sampai pak RT dan Hansip pun turun tangan untuk ‘menertibkan’ imajinasi tersebut.

“Aku paling suka sama penampilan monolog singkat (Joni-red), agak creepy sih tapi keren. Emosinya dapet banget”, ucap Riri, mahasiswi Sastra Inggris Unpad sekaligus pengunjung yang mengaku terkesan dengan penampilan para pemain GSSTF.

C360_2014-11-01-13-51-00-438

Acara ini tidak hanya mempersembahkan penampilan dari setiap divisi yang ada di bawah naungan GSSTF saja, yaitu sastra, teater, film, dan musik, tetapi juga menampilkan penampilan dari Kang Mukti, seorang alumni GSSTF yang menyanyikan beberapa bait lagu dengan merdu sambil memainkan gitarnya.

“Tema ‘Konvergensi Seni’ dipilih untuk mewakili kontribusi seluruh divisi seni yang ada di GSSTF”, ucap Ivany, selaku ketua pelaksana acara ini. “GSSTF itu adalah rumah di mana penghuninya bebas mengekspresikan ide, gagasan, emosi, dan amarahnya ke dalam karya.” tambahnya saat diwawancarai secara ekslusif oleh tim Pena Budaya.

Ivany mengatakan bahwa persiapan acara ini sudah dimulai pada awal semester ganjil dengan latihan intensif selama satu setengah bulan terakhir. Adapun harapan Ivany untuk GSSTF adalah agar GSSTF dapat semakin eksis dan lebih dikenal, tidak hanya di lingkungan Universitas Padjadjaran saja, tetapi di luar wilayah kampus, bahkan sampai seluruh Bandung. (FT/GT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *