Himasa Unpad Kunjungi Kedutaan Besar Republik Sudan

himasa-kedutaansudan
Foto bersama di Kantor Kedutaan Besar Republik Sudan, Kamis (2/10). (Foto oleh : Amalia Zahra)*

Himpunan Mahasiswa Sastra Arab (Himasa) Unpad melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Sudan untuk Indonesia di Jakarta Selatan, Kamis (2/10). Kunjungan ini diadakan untuk menambah wawasan mahasiswa Sastra Arab Unpad di bidang diplomasi kebudayaan.

Pihak kedutaan menyambut baik acara yang dihadiri oleh sedikitnya tiga puluh lima mahasiswa dari berbagai angkatan tersebut. Turut hadir dalam acara tersebut Koordinator Program Studi Sastra Arab, Dr. Ade Kosasih, M.Ag dan beberapa mahasiswa asing asal Sudan yang sedang menempuh studi di Unpad.

Dalam sambutannya, Ade Kosasih berharap kunjungan ini dapat mempererat hubungan antar kedua negara dan juga hubungan antara Kedutaan Besar Republik Sudan dan Program Studi Sastra Arab Unpad.

Kunjungan tersebut juga diisi dengan kuliah umum oleh Kepala Bidang Urusan Konsuler dari Kedutaan Besar Republik Sudan Tarig Abdullah Ali dan pengenalan Fakultas Ilmu Budaya Unpad oleh Ooh Hodijah, M.Hum. salah satu staf pengajar di Sastra Arab Unpad. Dalam kuliah umum dibahas sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Sudan dan kondisi kebahasaan masyarakat Sudan. Dalam kunjungan ini juga dibicarakan rencana kerjasama di bidang peningkatan kemampuan berbahasa Arab bagi mahasiswa dan dosen Sastra Arab Unpad yang akan disokong dengan pengajar bahasa Arab dari Kedutaan Besar Republik Sudan.

Dalam kuliah umum, Tarig mengatakan bahwa sebagai salah satu negara berbahasa Arab dan memiliki penduduk yang mayoritas beragama Islam, Sudan telah menjalin hubungan kerjasama dengan Indonesia sejak lama. Seorang ulama Sudan bernama Ahmad Sukarti telah tiba di Indonesia pada tahun 1910 (saat itu Hindia-Belanda) salah satunya untuk menyebarkan Islam dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam di Indonesia bernama Al-Irsyad yang masih bertahan hingga sekarang. Kemudian pada tahun 1955 seorang delegasi Sudan datang ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diadakan di Bandung. KAA tersebut kemudian menjadi inspirasi masyarakat Sudan untuk memperjuangkan kemerdekaannya dari Inggris. “Orang-orang Sudan lebih akrab dengan kota Bandung daripada Jakarta” Tutur Tarig.

Acara tersebut ditutup dengan ramah tamah sambil diperdengarkan sebuah lagu berbahasa Arab mengenai kota Bandung yang dilantunkan oleh seorang seniman Sudan.

Selain berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Sudan, Himasa juga berkunjung ke Perpustakaan Nasional Indonesia. Selain untuk menambah wawasan mengenai dunia perpustakaan, kunjungan ini juga digelar untuk mengenalkan mahasiswa dengan naskah-naskah kuno yang banyak disimpan di Perpustakaan Nasional. “Kebetulan kami punya tugas untuk mengedisi dan menerjemahkan naskah kuno, katanya kan banyak naskah kuno berbahasa Arab yang belum diterjemahkan di nusantara” tutur Randy yang mengaku sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengambil kuliah filologi. (ALE)

penabudaya

Related Posts

Porseni 2020: Kukuh Berkreasi walau Pandemi

Porseni 2020: Kukuh Berkreasi walau Pandemi

Tangkis Asumsi Negatif “Kuliah Sastra Lulus Jadi Apa?”

Tangkis Asumsi Negatif “Kuliah Sastra Lulus Jadi Apa?”

Puncak H2S: Salam Banyak Sastra!

Puncak H2S: Salam Banyak Sastra!

Ketika Budaya Sunda Bersemi dengan Monolog

Ketika Budaya Sunda Bersemi dengan Monolog

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *