Membangkitkan Gelora Teater Mahasiswa di Theatron 2014

“Ada Apa dengan Mahasiswa?”

Pertanyaan tersebut adalah tema acara Theatron 2014 yang diadakan pada Rabu, 8 Oktober 2014. Acara ini dimulai pukul 14.00-17.00 di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang Unpad. Theatron 2014 merupakan acara yang diselenggarakan oleh Teater Mata Mawar, Unit Kegiatan Mahasiswa yang terbentuk di bawah Himpunan Mahasiswa Sastra Jerman (Himasad) Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Acara ini menampilkan teater-teater yang ada di FIB seperti Tepass (Sastra Sunda), Masih Lekru (Sastra Rusia), Teater Djati (Sastra Indonesia), Paguyuban BFLA (Sastra Inggris), dan Mata Mawar (Sastra Jerman). Sebagai penutup, ada orasi yang dibawakan oleh Sufy (Ilmu Sejarah).

“Melalui acara ini, kami mencoba merangkul teater-teater yang ada di FIB untuk lebih bebas berekspresi dan berkreasi,” ucap Rama Fajar Nuriman, ketua pelaksana Theatron 2014.

2-Tepass

Theatron mewadahi tiap komunitas teater untuk berekspresi dengan pemikiran yang dituangkan dalam gerak dan lakon di atas panggung. Penampilan pertama dari Tepass menampilkan Longser, yaitu kesenian asal Sunda. Persiapan yang hanya dilakukan 2 jam berhasil menampilkan pertunjukan berjudul “Pilkabe (Pemilihan Ketua BEM). Selanjutnya, Masih Lekru dari sastra Rusia menampilkan kabaret berjudul “No Time For Gambling” yang bercerita tentang sekelompok mahasiswa yang senang berjudi, haus akan kemenangan semu, serta menyentil soal senioritas yang kurang mendidik dan masih menghantui dunia pendidikan saat ini.

Penampilan ketiga datang dari Teater Djati dengan lakon berjudul “Mahasiswa”. Teater Djati menampilkan teater dengan varian yang agak berbeda dengan teater pada umumnya. Dengan dialog yang abstrak dan minim kata, teater ini bercerita tentang mahasiswa yang ‘ada tapi diam’. Teater Djati menyuguhkan penampilan yang sarat simbol dan mengundang penonton untuk memiliki interpretasi masing-masing.

6-Djati

Penampilan keempat “Lembayung Asmara” yang ditampilkan oleh Paguyuban BFLA dari sastra Inggris mengangkat kisah klasik asmara Rangga dan Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta yang sempat popular tahun 2002 lalu. Penampilan yang energik dengan sketsa dan koreografi yang ditampilkan merupakan stategi modifikasi sehingga kisah klasik Ada Apa Dengan Cinta terasa baru.

Mata Mawar yang merupakan UKM dari Sastra Jerman mengambil judul “Arah Mata Angin”. Kelompok teater ini mengkritik keadaan bumi saat ini. Bumi dirasa telah penuh dengan kebusukan dan dosa yang diperbuat oleh manusia yang hidup di dalamnya. Bumi akhirnya lelah atas kemunafikan, kebohongan, kepalsuan, serta keserakahan para pemimpin yang ada di seluruh penjuru mata angin. Sebagai penutup, tersaji orasi yang dibawakan Sufy, mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah, yang berisi tentang intisari dari semua pertunjukan teater hari itu. Orasi yang menggugah pemikiran mahasiswa terhadap pemikiran dan tindakan mahasiswa masa kini.

10-Orasi Sufy
“Acaranya seru dan keren, aku paling suka penampilan dari BFLA” ungkap Ade Sumiati siswa kelas X SMAN 1 Tanjungsari. Penonton yang hadir tidak hanya mahasiswa saja, tetapi ada juga beberapa siswa SMA yang datang untuk menonton acara ini. Antusiasme penonton yang bagus membuat acara ini terbilang sukses.

“Seneng banget sama penonton yang datang. Semoga peminat teater makin maju dan acara Theatron bisa menjadi acara tahunan,” ucap Eneng Yulianah, perwakilan penampil dari Teater Mata Mawar.

(UK/RP)

Foto: WS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *