Siap Memilih

Oleh: Rahmat Syah (BLURadio Unpad)

Kehangatan pemilu tahun ini sudah semakin kita rasakan. Mereka para caleg dengan lantangnya berkampanye untuk mencuri hati masyarakat. Berbagai cara yang mereka lakukan seperti yang tidak jauh dari sekitar kampus kita, terpampangnya spanduk, poster, bendera-bendera yang menurut saya sangat mengganggu sekali. Bagi saya tidak enak dilihat. Lebih baik tembok-tembok jalanan diisi dengan mural, graffiti atau yang lainnya, yang lebih memiliki nilai seni dan keindahan dibandingkan poster-poster “om-om partai” yang menempel di tembok. Apa lagi poster-poster “om-om partai” yang menempel di sekitar jatinangor itu ditempelkan di pepohonan. Caranya saja sudah termasuk pelanggaran merusak lingkungan. Dari cara tersebut saja sudah dapat kita nilai bahwa kelak calon pemimpin kita ini akan merusak lingkungan kita.

Selain itu, para caleg juga mempromosikan dirinya di media online. Hal ini juga tidak berdampak banyak dalam berkampanye. Hasilnya malah banyak poster caleg yang diedit dan dijadikan bahan lelucon di media online. Melihat hal ini sepertinya para caleg sudah tidak dihargai di kalangan masyarakat dunia maya.

Cara yang lain dalam berkampanye yaitu dengan memberikan rupiah kepada masyarakat saat ikut kampanye partai tertentu. Dalam pemilu sebelumnya mungkin hal ini masih dilakukan secara diam-diam, namun dewasa ini tidak jarang pihak-pihak terkait melakukannya secara terbuka. Malah pernah saya melihat poster caleg di jalanan terpampang dengan indahnya mengatakan “ambil uangnya, jangan pilih orangnya!”. Lucu sekali menurut saya seperti mengajarkan budaya korupsi kepada masyarakat.

Hal-hal tersebut sepertinya tidak disadari bahwa para caleg dan partai politik masih saja menggunakan strategi yang itu-itu saja seperti pemilu sebelumnya dengan tujuan hanya untuk mengumpulkan masyarakat dengan jumlah yang banyak. Padahal cara tersebut sudah tidak efektif lagi dengan masyarakat yang sudah cerdas dalam memilih sekarang ini. Kampanye-kampanye tersebut menurut saya hanya menghambur-hamburkan uang dan hanya menjadi ajang hiburan.

Melihat hal tersebut, sudahkah masyarakat Indonesia siap memilih? Menurut saya siap memilih adalah hak kita dan tidak siap memilih juga merupakan hak kita. Tidak ada yang di paksakan dalam memilih. Masyarakat dewasa ini menurut saya sudah semakin cerdas dalam mempergunakan hak mereka.

“Yang harus kita awasi dalam pemilu ada 2, sebelum memilih dan setelah memilih”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *