Setelah lama memandang sebuah foto di tangannya, lelaki itu sadar hari sudah memudar. Maka dia beranjak turun dari kamar, bergegas menuju warung yang ada di bawahnya. Langkahnya sedikit goyah dan wajahnya kusut karena seharian dia duduk mengurung diri, tidak makan, minum, apalagi mandi. Dia turun sekadar membeli segelas kopi dan sebungkus nasi. Lalu pergi ke kamar mandi sebelum berbalik mengurung diri.  Rutinitas yang dilakukannya dari hari ke hari.

Langit senja menyapanya ketika dia turun dari kamar. Sekawanan burung melintas, pulang kembali ke sarang. Anak-anak kecil berlarian mengejar satu sama lain, memakai sarung dan telekung, ke arah masjid tidak jauh dari sana. Beberapa pekerja terlihat bersepeda, sisanya berjalan, pulang dari pabrik di seberang.

Warung yang dituju lelaki itu selalu ramai pada waktu-waktu demikian. Kaum lelaki asyik duduk-duduk, mengobrol melepas lelah, ditemani gelas kopi, piring gorengan dan nasi, juga batang rokok yang disulut api. Terkadang suasana kian ramai ketika salah satu berseloroh dan gelak tawa meledak. Namun, suasana itu mendadak mereda, ketika lelaki itu berdiri di ambang warung. Orang-orang diam menatapnya selagi lelaki itu berjalan pelan mendekati pemilik warung.

“Pesan kopi dan nasi. Dibungkus,” katanya pelan dan dalam.

“Kamu tampak lesu sekali, tidak seperti biasanya. Kamu baik-baik saja, Mas?” tanya pemilik warung sambil menyiapkan pesanan.

“Tidak. Saya tidak baik-baik. Sudah lama saya tidak baik-baik saja.”

“Beristirahatlah, atau perlu saya temani ke dokter?”

“Tidak, terima kasih, saya tidak suka mereka.”

“Atau mau dipanggilkan mantri . . .”

“Tidak! Saya tidak mau mereka terluka seperti tempo lalu!”

Teriakan lelaki itu mendatangkan sepi yang menghardik seisi warung. Mereka terdiam. Suasana pekat. Beberapa ada yang berani menatap. Beberapa yang lain tampak berbisik, sambil mencuri-curi mata kepadanya.

“Baiklah, tapi tolong jangan teriak-teriak di sini. Saya tidak mau para pelanggan merasa tidak enak, Mas,” kata pemilik warung menyerahkan pesanan.

“Maaf, saya tidak sadar,” wajahnya menunduk, “oh iya, ada pisau?”

Setelah membayar pesanan dan membawa sebilah pisau yang dipinjam, lelaki itu bergegas kembali ke kamar. Suasana mereda. Obrolan dan seloroh mulai timbul setelah tenggelam dalam detik-detik yang pekat. Beberapa orang duduk mendekati pemilik warung.

“Sampai kapan kamu menyewakan kamarmu ke lelaki itu?”

“Ya, sampai dia memutuskan untuk pindah.”

“Kamu tidak khawatir?”

“Khawatir apa?”

“Dia membahayakan penghuni rumah, juga orang di sekitarnya.”

“Tidak, saya percaya dia tidak akan melakukan macam-macam.”

“Tapi, dia gila!”

“Kalau memang gila, lantas kenapa? Dia tetap bisa berlaku seperti orang pada umumnya. Dia mengerti jumlah uang yang akan dibayarkan kalau membeli sesuatu di sini.  Dia juga bercakap-cakap seperti kalian. Selama tidak melakukan hal yang membahayakan, apa bedanya?”

“Kamu tidak mengindahkan kejadian tempo lalu, saat dia mengamuk ketika kita membawakan dokter ke kamarnya dan dokter itu pulang dengan luka.”

“Bagaimana tidak mengamuk, kalian membawa dokter jiwa tanpa sepengetahuannya, pun tanpa setahuku, sebagai induk semangnya. Lalu memaksanya pergi ke rumah sakit jiwa. Jika saya jadi dia, pasti saya melakukan apa yang dia lakukan.”

“Kami membawanya karena khawatir dia terguncang jiwanya.”

“Karena ditingggal mati pacarnya?”

“Iya.”

“Saya rasa kalian yang terlalu berlebihan, dia tidak gila. Dia normal.”

“Ya, terserah kamu saja. Saya cuma khawatir dia mendadak ngamuk dan melukai orang-orang di sini. Tadi juga dia meminjam pisau, kenapa kamu malah meminjaminya?”

“Dia pinjam pasti karena ada keperluan, tidak perlu lah berpikir macam-macam.”

“Kamu terlalu mudah menyepelekan sesuatu. Hati-hati.”

Lelaki itu melihat kerumunan mereka dari balik jendela. Senja sudah benar-benar larut oleh malam. Lampu jalanan mulai menyala, menerangi satu dua orang yang berjalan berdua. Penjual nasi goreng terlihat mendorong gerobaknya, berpapasan dengan penjual sekoteng dari arah sebaliknya. Kendaraan tidak sering tampak, hanya sesekali lewati jalanan yang lengang.

Udara malam masuk dari jendela kamar. Lelaki itu duduk diam menghadap jendela. Sebuah foto di tangannya. Matanya memandang sosok yang tersenyum. Semakin lama dia memandang, semakin hanyut dirinya di angan-angan. Keramaian warung di bawah perlahan hening di telinganya. Lampu kamar meredup. Dunia menggelap. Hingga dia merasa sendiri, dan hanya ditemani foto yang dipegang jemari.

Mendadak, dia dikejutkan oleh suara ketokan pintu. Lamunannya buyar seketika. Wajahnya menampakkan kekesalan. Dia paling tidak suka bila ada yang mengganggu saat-saat dia mengurung diri.

“Siapa di sana?”

“Ini aku.”

“Aku siapa?”

“Kamu lupa padaku? Cepat buka pintunya.”

“Saya tidak mau buka, kecuali kamu beritahu siapa kamu!”

“Ini aku.”

“Ya, aku siapa!”

“Buka saja.”

Suara seseorang tersebut seperti tidak asing bagi lelaki itu. Tapi, dia ragu. Hatinya mengatakan untuk membuka pintu, tapi pikirannya yang diliputi kesal menolak.

“Tidak!”

“Bukalah, aku perlu berbicara denganmu.”

“Tidak!”

“Tolonglah. Aku mohon.”

“Sudah kubilang tidak ya tidak! Pergi sana!”

Hening. Lelaki itu merasa orang tersebut sudah pergi. Maka dia beranjak lagi ke kursinya. Saat hendak mengambil foto, terdengar suara gedoran pintu.

“Cepat pergi! Kubilang pergi!”

“Buka dulu, bila tidak aku memaksa.”

Lelaki itu tidak punya pilihan lain. Dia buka pintu, dan seorang anak lelaki berdiri, yang dengannya mirip sekali.

“Sudah kubilang, ini aku.”

Warung di bawah kamar mendadak tidak seramai tadi. Mereka merendahkan suara. Setelah mendengar teriakan dan gedoran dari arah kamar lelaki itu sampai tidak terdengar lagi suara demikian.

“Tidak ada yang ke atas selain dia.”

“Dia berulah lagi.”

“Memang, ulahnya tidak membahayakan, tapi hanya sedikit mengganggu.”

“Sampai kapan kamu tahan terhadap ulahnya ini?”

Pemilik warung itu hanya bisa menunduk diam.

**

Percakapan di warung berlanjut. Mereka berniat meyakinkan pemilik warung dengan berbagai macam cerita, yang sudah sering didengarnya, bahkan beberapa juga dilihatnya secara langsung. Namun, pemilik warung itu tetap pada pendiriannya. Dan menjawab sesekali ucapan mereka dengan senyum.

“Saya rasa wajar bila dia demikian sikapnya.”

“Memang wajar saat dia lari tergopoh-gopoh mendengar pacarnya menjadi mayat di sungai yang mengambang dengan kondisi telanjang. Lari tanpa pakai sandal dan hanya pakai kolor ke rumah sakit tempat mayat si gadis diinapkan.”

“Ya, lantas, apa yang perlu diributkan? Kejadian setelah dia pulang? Itu hal yang wajar.”

“Apa kamu bisa bilang wajar, bila dia lari dari rumah sakit dengan wajah sumringah, kedua tangan hendak menggapai-gapai sesuatu di depannya, padahal tidak ada apa-apa atau siapa-siapa di sana? Dan ketika di persimpangan jalan, dia tidak melihat ke kanan kirinya, padahal lalu lintas sedang ramai. Dia lari melintas jalan begitu saja. Jika tidak ada saya yang menangkap menghentikannya waktu itu, mungkin dia sudah mati terlindas mobil.”

**

“Mereka tidak pernah tahu. Mereka tidak mau tahu. Mereka tidak mengalaminya!” teriaknya memecah kesunyian warung di bawah yang sudah sepi ditinggal pelanggan. Seekor kelelawar terbang dari pohon mangga di samping rumah, menjerit seakan menjawab kegetiran lelaki itu.

“Aku tahu, mereka menganggapku gila. Dan aku tidak peduli. Tidak. Aku tidak gila!”

“Aku sadar ketika menemuimu di kamar itu. Matamu yang tidak lebar menatapku dengan pandangan kosong. Bibirmu sedikit terbuka. Ada suara rintih yang sunyi keluar darinya. Dan dokter-dokter itu tidak mendengar! Kamu masih hidup! Aku memberitahu tapi mereka malah memaksaku keluar, menyeretku, memisahkanku darimu. Mereka juga dengan seenaknya menutupimu dengan selimut dan memasukkannya ke sebuah laci pendingin. Mereka hanya berceloteh yang intinya untuk menenangkanku, dan bagaimana bisa aku tenang, bila mereka memisahkanku darimu!”

Perempuan dalam foto itu tersenyum.

“Saat itu, aku pun masih sadar ketika tiba-tiba mendengar suara dan melihatmu keluar dari lorong rumah sakit. Aku berlari mengejarmu. Saking cepatnya berjalan, tubuhmu seperti melayang, kedua kaki jenjangmu yang putih tidak menapak. Lantas ada yang tumbuh di punggungmu. Sepasang sayap merpati yang pernah kamu idam-idamkan itu. Bagaimana aku tidak senang bila melihatmu dengan penampilan demikian?”

Kini, lelaki itu sudah duduk diam tidak terhitung berapa lama. Matanya menerawang jauh ke dalam sosok perempuan dalam foto. Angin malam berhembus masuk, membelai sebilah pisau di atas meja. Sudah beberapa kali lelaki itu meliriknya.

“Aku ingin pergi, Mei.”

Perempuan dalam foto itu tersenyum.