Corak Kontemporer Indonesia

Lukisan oleh Putu Wirantawan
The Wandering Soul III, lukisan oleh Putu Wirantawan

 

 

Pada abad ke-21 ini, yang dianggap sebagai zaman modern, ranah seni lukis Indonesia diwarnai oleh aliran kontemporer. Aliran kontemporer merupakan sebuah aliran yang mengutamakan kebebasan berekspresi, sehingga lukisan yang dihasilkan menjadi dinamis dan tidak terikat oleh aturan.  Karena tidak terikat oleh aturan, maka aliran ini banyak dipilih oleh seniman muda; mereka menjadi bebas untuk mengekspresikan diri pada karyanya masing-masing.

Seiring bertambahnya partisipan dan seniman muda, acara-acara yang bersifat modern, baik bertaraf nasional maupun internasional, banyak diselenggarakan. Salah satunya adalah Jakarta Art Award (JAA), sebuah kompetisi lukis yang diadakan setiap dua tahun sekali sejak 2006. Tujuan acara ini adalah untuk memberikan semangat baru bagi seniman-seniman lukis nasional dan internasional. Dalam dua perhelatan JAA terakhir, dua karya pelukis Indonesia, The Wandering Soul III dari Putu Wirantawan (2010) dan Keluarga Sakinah dari Sapto Sugiyo Utomo (2012) berhasil mendapat kategori sebagai karya terbaik. Untuk tahun 2014 belum ada keterangan lebih lanjut mengenai kompetisi ini.

Lukisan Keluarga Sakinah karya Sapto Sugiyo Utomo menjadi juara 1 kompetisi JAA 2012 Foto oleh Marthauli
Lukisan Keluarga Sakinah karya Sapto Sugiyo Utomo menjadi juara 1 kompetisi JAA 2012
Foto oleh Marthauli

Kini galeri lukisan tidak hanya dapat kita temui di tempat-tempat tertentu. Media online dapat kita gunakan untuk menikmati berbagai macam lukisan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa melalui aliran kontemporer, peluang untuk berkarya dan berekspresi kian terbuka bagi siapa saja dan dengan berbagai macam cara.

Di kota Bandung sendiri banyak seniman yang dapat ditemukan secara rutin di sepanjang Jalan Braga. Mereka adalah para seniman lukisan dan sketsa wajah, yang menambah keunikan jalan tersebut. Lukisan indah berwarna-warni menjadi daya tarik baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Tidak hanya di Jalan Braga, tetapi kita juga dapat menjumpai hal yang sama di Desa Lengko, Bandung Selatan, yang telah menjadi sentra lukisan terbesar di Kabupaten Bandung sejak tahun 1960.

Apapun caranya untuk menikmati seni, seorang seniman mempunyai nilai kreativitas yang tak ternilai harganya, sehingga kecakapan mereka dapat digunakan untuk melestarikan budaya Nusantara. Ditambah dengan dukungan moral dan perhatian dari pemerintah, maka hasil dari seni tersebut pun semakin optimal. (DA/NM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *