Wanita dan Sastra: Menulis Adalah Kemewahan

Buletin TIPIS April 2012 #1

Narasumber: Aquarini Priyatna Prabasmoro, M.A., M.Hum., PhD.

Bu Atwin, begitulah beliau biasa disapa, adalah dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dan dosen tamu di Universitas Indonesia kelahiran Bogor pada tanggal 1 Juni 1968. Beliau adalah seorang penulis dimana kedua bukunya yang berjudul “Becoming White : Representasi Ras, Kelas, Feminitas dan Globalitas dalam Iklan Sabun” dan “Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop” direspon baik oleh para pembaca.

Aquarini Prabasmoro menyandang gelar sarjana setelah lulus dari jurusan Sastra Inggris di Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada tahun 1991. Lalu melanjutkan pendidikan S2-nya delapan tahun kemudian di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1999. Dalam jeda waktu delapan tahun sebelum melanjutkan pendidikannya di UI, beliau memutuskan untuk menikah kemudian kuliah mengambil jurusan Kajian Wanita ketika anak pertamanya berusia 1,5 tahun. Bu Atwin kemudian mendapatkan beasiswa short course untuk British Studies selama tiga bulan di Inggris. Namun pada akhirnya, karena prestasinya dan juga bantuan dari British Council beliau mendapatkan beasiswa untuk meraih Master Degree di Lancaster University (UK) untuk bidang Feminist Cultural Theory & Practice. Sebelum menyusun tesisnya di UI itu, beliau memutuskan untuk berangkat ke Inggris. Pada tahun 2002, beliau menyelesaikan studinya
dalam kurun waktu kurang dari setahun dan lulus dengan pujian di Lancaster University. Barulah setelah pulang dari Inggris Bu Atwin menyusun tesis di UI dan untuk kedua kalinya menyandang gelar Master Degree. Akhir
Tahun 2004 beliau mendaftarkan diri untuk melanjutkan S3 nya di Australia melalui jalur beasiswa Monash Research Graduate Scholarship di Monash University. Namun, Pada awal tahun 2005 beliau kembali mendapatkan beasiswa yaitu ADS (Australian Development Scholarship), sehingga beasiswa yang sebelumnya beliau dapatkan sengaja dibatalkan. Tetapi, keberangkatannya harus di tunda selama satu tahun karena sedang mengandung anak keduanya. Setelah kelahiran putra keduanya pada tahun 2006, Bu Atwin berangkat untuk melanjutkan studinya lagi-lagi mengambil Feminist Cultural Studies sebagai bidangnya.

bu atwin2


Alasan Bu Atwin sangat tertarik dengan Feminist Studies atau Gender Studies karena kepeduliannya akan perempuan. Hal ini bermula ketika awal tahun 1993 sering mengikuti seminar, workshop, dan training di luar negeri yang mengkaji tentang perempuan, dari situlah beliau sering bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara dan akhirnya sadar akan adanya ketimpangan sosial antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan yang ternyata memang bukan hanya terjadi di Indonesia. Islam, yang sering disebut sebagai agama yang menomor duakan kaum perempuan ternyata tidak benar adanya, karena di negara maju yang sering disebut menyetarakan gender seperti Amerika sekalipun nyatanya masih saja memberi ruang antara laki-laki dan perempuan. Hal inilah yang pada akhirnya menarik hati beliau untuk mengkaji Cultural Studies mengenai Feminist Studies atau Gender Studies. Hasil kajiannya kemudian beliau tulis dalam bentuk beberapa esai untuk tugas kuliah dan dimuat di media massa. Kemudian hasil dari kumpulan esai-esai tersebut beliau kumpulkan sehingga menjadi buku yang kemudian diterbitkan.

Kepeminatan Beliau Terhadap Bidang Menulis

Menurutnya, menulis adalah sebuah kemewahan yang sangat luar biasa, terutama bagi kaum perempuan. “Ketika marah saya menulis,” itulah yang beliau katakan. Ketika marah beliau dapat mengungkapkan seluruh kegelisahan, apa yang sedang beliau rasakan serta hal-hal yang menurut beliau harus diungkapkan dalam bentuk tulisan. Beda halnya ketika beliau sedang bahagia dimana beliau telah merasa nyaman dan terkadang merasa tidak ada hal yang harus di ungkapkan. Hal inilah yang kemudian menurut beliau menjadi suatu kelemahan yang ada dalam dirinya ketika akan menulis.

Sejak masih duduk di bangku SMP, beliau sudah mulai menulis diary. Kebiasaannya itu masih berlangsung hingga sekarang. Namun, beliau baru menemukan ruang yang menyenangkan untuk menulis ketika kuliah di Inggris karena selama kuliah tidak ada keluarga yang menemaninya disana, sehingga beliau menyibukkan diri dengan menulis beberapa esai untuk tugas kuliahnya. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Lancester University beliau menerbitkan sebuah buku yang berjudul Becoming White yang merupakan hasil disertasi Master Degree (S2) nya.

Buku dengan judul Becoming White ini mendapatkan respon yang baik dari para pembaca. Mereka sangat mendukung Bu Atwin untuk kembali menulis buku. Sehingga, pada tahun 2006 beliau menerbitkan buku keduanya yang berjudul Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Buku keduanya lahir dari hasil beberapa esai beliau yang dimuat di koran. Kedua bukunya yang sudah ia terbitkan dinilai positif oleh masyarakat.

Berhasil menerbitkan buku pertama, beliau kembali menulis di kolom Pikiran Rakyat yang dimuat dua minggu sekali setiap hari kamis dan beberapa artikel yang dimuat di berbagai media cetak lainnya hingga tahun 2006. Kemudian pada tahun 2007 beliau juga mulai menulis fiksi di The Jakarta Post, yaitu Something Sensitive (21 Januari 2007), On Searching for an Answer (28 Oktober 2007), dan Alone in Glasgow.

Pandangannya terhadap FIB Unpad

Fakultas Ilmu Budaya atau sebelumnya dikenal dengan nama Fakultas Sastra harusnya adalah tempat lahirnya para penulis-penulis muda. Namun ironisnya penulis yang ada kebanyakan bukanlah dari FIB melainkan dari fakultas-fakultas lain seperti Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan, dll. Menurut pendapat Bu Atwin, hal itu dikarenakan mahasiswa FIB sendiri kurang memiliki minat dalam membaca serta keinginan untuk melahirkan suatu karya, dan para pengajarnya jarang menghasilkan suatu karya, sehingga sedikit pula yang dapat menjadi contoh bagi mahasiswanya. Selain itu, rendahnya penghargaan dari fakultas terhadap kegiatan menulis dosen juga adalah salah satu penyebabnya.

Menerbitkan buku bukan hanya membutuhkan waktu dan tenaga, tapi juga materi. “Contohnya, bukan hanya di FIB, bagaimana bisa seorang dosen bisa menerbitkan karyanya ketika ketidakjelasan penghargaan finansial terhadap kontribusi akademik dosen masih seringkali terjadi,” tuturnya. Intinya, pihak fakultas bahkan universitas harus memberikan apresiasi dan penghargaan yang pantas khususnya untuk penerbitan suatu karya atau buku sehingga bidang sastra tidak akan pernah pudar di tengah-tengah generasi muda zaman sekarang.(TIPIS/NV/FR)

Biodata Narasumber

bu atwin
Nama Lengkap : Aquarini Priyatna Prabasmoro, M.A., M.Hum., PhD.
Tempat Tanggal lahir : Bogor, 1 Juni 1968
Alamat : Jl. Saturnus no. 5 Turangga Bandung 40275 Indonesia
E-mail : atwinatwin@gmail.com

Harian
1) Mencium Sastrawangi, Menubuhi Diri, Media Indonesia, 11 Januari 2004.
2) Membaca [Lagi] Seksualitas Perempuan, Media Indonesia, 9 Mei 2004.
3) Korban Ideologi Langsing, Media Indonesia, 29 Agustus 2004.
4) Dua Novel Pembunuh Bapak, Koran Tempo, 29 Agustus 2004.
5) Panggung Politik dan Panggung Hiburan, Pikiran Rakyat, 5 September 2004.
6) Perempuan, Tradisi dan Resistensi, Media Indonesia, 12 Desember 2004.
7) “Cermin Merah”, Sederhana tapi Berasa”, Pikiran Rakyat, 4 Juni 2005.
8) Teknologi dan Reproduksi Kebutuhan, Pikiran Rakyat, 22 September 2005.
9) Hamil, Pikiran Rakyat, 20 Oktober 2005.
10) “Kita” dan “Mereka”, Pikiran Rakyat, 1 Desember 2005.
11) Offline, Online, Pikiran Rakyat, 5 Januari 2006.
12) Ibu, Istri dan Mahasiswa, Pikiran Rakyat, 9 Februari 2006.
13) Kekerasan di Sekitar Kita, Pikiran Rakyat, 16 Maret 2006.

Penelitian yang sudah selesai
1) Representasi Subjektivitas Perempuan dalam Enam Cerita Pendek Bahasa Inggris (dengan Eva Tuckytasari dan Ekaning Krisnawati), didanai DIKS., 2004.
2) Representasi Femininitas dalam Novel and Film “Sense and Sensibility” dan “The Age of Innocence” (dengan Ekaning Krisnawati dan Ida Farida Sachmadi) didanai SP4, 2004.
3) Konstruksi Identitas Kulit Hitam dan Homoseksual dalam Karya Autobiografis James Baldwin dan Audre Lorde (dengan Tisna Prabasmoro, Rasus Budhyono and Taufiq Hanafi), didanai SP4, 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *