Mengenal Gedung Merdeka

TIPIS Edisi April-Mei 2011

Terletak strategis di tengah kota, tepatnya di Jalan Asia-Afrika No.65, membuat Gedung Merdeka menjadi salah satu tempat wisata sejarah terbaik di kota Bandung. Gedung ini menjadi sangat terkenal sejak diadakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18-25 April 1955 yang dihadiri 29 negara dan menghasilkan rumusan Dasasila Bandung, disusul dengan diadakannya Konferensi Mahasiswa Asia Afrika (1956) dan Konferensi Islam Asia Afrika (1965).

Gedung Merdeka pertama kali dibangun pada 1895 dengan nama Societeit Concordia dan pada 1926, bangunan ini direnovasi seutuhnya. Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker, dua arsitektur Belanda yang juga merupakan guru besar di Technische Hogeschool (sekarang ITB), merancang bangunan ini pada 1926. Gedung seluas 7500 m2 ini memiliki nuansa art deco yang sangat kental. Kemegahan gedung ini juga terlihat dari lantainya yang terbuat dari marmer buatan Italia, beragam properti dari kayu cikenhout, dan lampu-lampu bias kristal yang meneranginya.

Pada mulanya, Gedung Merdeka digunakan sebagai tempat rekreasi dan sosialisasi sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di Bandung. Selanjutnya, pada masa pendudukan Jepang, gedung ini dinamakan Dai Toa Kaman yang fungsinya sebagai pusat kebudayaan. Kemudian pada masa proklamasi kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai markas para pemuda anti-Jepang. Akhirnya, pada masa pemerintahan yang mulai terbentuk, gedung ini digunakan sebagai gedung pertemuan umum.

Memang dalam beberapa kurun waktu, fungsi gedung ini sempat berubah-ubah, mulai dari Gedung Konstituante (1955) sampai Gedung MPRS (1960). Namun, pada Maret 1980, gedung ini kembali ditetapkan menjadi tempat peringatan KAA yang ke-25 dan pada puncaknya, gedung ini diresmikan menjadi Museum KAA oleh Presidan Soeharto.

Hingga kini, Museum KAA masih menyimpan naskah-naskah dan peninggalan-peninggalan Asia Afrika yang terkenal serta menampilkan koleksi foto-foto dan benda-benda tiga dimensi yang berhubungan dengan Konferensi Asia Afrika 1955. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari kerja dan mudah dicapai dengan menggunakan bus kota jurusan Cicaheum-Cibeureum atau angkot jurusan St. Hall Dago.

Banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan bila mengunjungi museum ini. Selain dapat menambah wawasan, museum ini juga bisa dijadikan ajang berfoto ria karena arsitektur tempo doeloe-nya yang unik. Tak heran banyak orang yang datang ke sana sekedar untuk mengabadikan foto. (MZY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *